Haul Ke-1 KH M. Imam Aziz: Meneladani Jalan Hidup “Kiai Rakyat

whatsapp image 2026 07 21 at 12.49.40

YOGYAKARTA – Mengenang satu tahun berpulangnya tokoh advokasi dan penggerak NU kultural, KH. M. Imam Aziz (Mas Imam), para sahabat, santri, dan lintas aktivis menggelar peringatan Haul ke-1 di Kompleks Pondok Pesantren Bumi Cendekia, Yogyakarta, pada hari Minggu (19/7/2026).

Rangkaian haul ini tidak hanya diisi dengan doa, peluncuran buku dan diskusi, tetapi juga dihidupkan dengan panggung seni tadarus budaya, serta kehadiran Pasar Rakyat yang melibatkan para pelaku UMKM dan warga sekitar.

Pasar Rakyat: Menghidupkan Ekonomi Warga di Pusara “Kiai Rakyat”

Sejak pagi hari, area sekitar Pondok Pesantren Bumi Cendekia tampak semarak dengan berdirinya deretan stan Pasar Rakyat. Berbagai lapak kuliner lokal, produk kerajinan tangan, hingga stan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik warga, komunitas dan para santri turut meramaikan suasana.

Kehadiran Pasar Rakyat ini bukan sekadar pelengkap, melainkan bentuk manifestasi konkret dari nilai-nilai perjuangan Mas Imam semasa hidupnya. Sebagai figur yang konsisten membela dan mendampingi masyarakat cilik, Pasar Rakyat ini menjadi ruang perjumpaan ekonomi inklusif yang menggerakkan roda perekonomian warga lokal serta mempererat silaturahmi antara jamaah, aktivis, dan masyarakat luas.

whatsapp image 2026 07 21 at 12.51.16

Peluncuran Dua Buku Refleksi Perjuangan

Salah satu momen utama dalam peringatan haul ini adalah peluncuran dua buku yang membedah gagasan serta rekam jejak perjuangan Mas Imam dalam mendampingi masyarakat lemah (mustad’afin).

Pertama, buku berjudul Bergantung Pada Ranting karya Hairus Salim HS. Ia menceritakan bagaimana proses penulisan buku tersebut. Awalnya, Hairus hanya mencatat potongan-potongan ingatan terkait pergumulan dirinya dengan Mas Imam di ponselnya. Di dalamnya merangkum catatan personal dan ingatan Hairus sejak berinteraksi dengan Mas Imam di IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga, mendirikan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), hingga mendirikan Ponpes Bumi Cendekia.

Kedua, buku Kiai Pejuang Sunyi (bunga rampai). Buku ini merupakan edisi kelanjutan dari buku 100 hari wafatnya Mas Imam, berisi 35 tulisan dari para tokoh, sahabat, dan santri dari berbagai latar belakang. Menurut Heru Prasetia, salah seorang editor buku tersebut, menjelaskan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari komitmen para sahabat dan santri Mas Imam untuk terus menghadirkan karya pada setiap peringatan wafatnya.

Sejumlah tokoh lintas disiplin turut menyumbang kesaksian dalam buku tersebut, di antaranya antropolog Martin van Bruinessen, mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, aktivis difabel Bahrul Fuad, promotor musik Anas Syahrul Alimi, aktivis perempuan Masruchah, hingga pejuang lingkungan Sedulur Kendeng, Gunretno. Spektrum penulis yang sangat luas ini mencerminkan pergaulan dan ruang advokasi Mas Imam yang menembus batas-batas sektarian. “Kiai rakyat memang gelar yang tepat untuk Imam Aziz,” tulis Martin van Bruinessen dalam kesaksiannya.

Rekam Jejak Advokasi Kaum Terpinggirkan

Sepanjang hidupnya—baik saat menjadi jurnalis, aktivis PMII, LKiS, penggerak NU kultural, hingga menjabat sebagai Ketua PBNU—Mas Imam konsisten berada di garis depan pendampingan warga yang terdampak konflik agraria dan pembangunan. Jejak advokasinya membentang dari kasus Kedung Ombo, penolakan pabrik semen di Kendeng, Kulon Progo, hingga kasus Wadas.

Usai peluncuran buku, acara dilanjutkan dengan diskusi publik bertajuk “Imam Aziz: Advokasi, Rekonsiliasi, dan Kemandirian NU”. Diskusi yang dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai daerah ini dipantik oleh sejarawan Budiawan, akademisi Sri Wiyanti Eddyono, budayawan NU Achmad Munjid, serta perwakilan keluarga yang juga Wakil Dekan FISIPOL UGM, Fina Itriyati. Forum ini menekankan pentingnya merawat warisan pemikiran Mas Imam mengenai kemandirian Jam’iyyah NU dan keberpihakan tegas pada masyarakat bawah.

Nyanyian Dakwah dan Tadarus Budaya

Suasana peringatan haul kian hangat pada malam hari melalui agenda Tadarus Budaya. Panggung budaya dimeriahkan oleh penampilan grup musik dakwah Ki Ageng Ganjur—salah satu peninggalan bersejarah yang dirintis Mas Imam bersama budayawan Dr. Ngatawi Al-Zastrouw.

“Ki Ageng Ganjur adalah bukti bagaimana santri bisa berdakwah secara ramah melalui seni dan musik hingga ke mancanegara seperti Prancis, Belanda, Aljazair, hingga Jepang,” ungkap Ngatawi Al-Zastrouw.

Malam tadarus budaya tersebut juga diwarnai penampilan lagu dan refleksi dari Budi Cilok, Alissa Wahid, Inaya Wahid, serta Cak Coy. Melalui peluncuran buku, diskusi gagasan, dan nada kebudayaan ini, para sahabat dan santri berkomitmen untuk terus menghidupkan api perjuangan dan keteladanan sang “Kiai Rakyat” bagi generasi mendatang.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *