Bukan Sekadar Praktik Lima Tahun Sekali, Yayasan LKiS & FBE UAJY Bedah Cerita Demokrasi Akar Rumput

picture 1

Yogyakarta, 11 Mei 2026 – Di tengah menyempitnya ruang sipil dan menguatnya politik transaksional di Indonesia, demokrasi seringkali dipahami secara prosedur formal semata. Menanggapi hal tersebut, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (YLKiS) bekerja sama dengan Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta menyelenggarakan diskusi bedah buku “Menjaga Api Demokrasi: Pembelajaran dari Gerakan Akar Rumput” pada Senin, 11 Mei 2026 pukul 13.00-17.00 WIB di Gedung Bonaventura Kampus 3 Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Diskusi ini terselenggara untuk merefleksikan dan menggali pembelajaran praktik demokrasi sehari-hari, sehingga terjadi pertukaran pengalaman dan penguatan perspektif yang relevan dengan situasi demokrasi saat ini.

Buku “Menjaga Api Demokrasi: Pembelajaran dari Gerakan Akar Rumput” hadir sebagai dokumentasi penting atas pengalaman masyarakat akar rumput dalam mempertahankan demokrasi sehari-hari. Buku tersebut menghimpun puluhan cerita perubahan dari Kota Yogyakarta, Kulon Progo, Banda Aceh, Bireuen, Ambon, Maluku Tengah, dan Jakarta yang berisi proses, tantangan, serta pembelajaran praktik nyata masyarakat sipil dalam menjaga dan memperluas ruang demokrasi. Cerita-cerita menarik yang perlu didialogkan, sehingga memungkinkan banyak orang merefleksikan, mengkritisi, dan mengaitkan isi buku dengan pengalaman masing-masing. Dalam sambutan diskusi, Tri Noviana selaku Direktur Yayasan LKiS menegaskan bahwa buku tersebut mengangkat suara-suara kelompok yang terpinggirkan seperti transpuan, penghayat kepercayaan, orang dengan disabilitas yang seringkali tidak dilibatkan dalan proses pembangunan, mampu menghidupkan demokrasi di akar rumput, sehingga salah satunya tercipta TPS yang aksesibel.

Berangkat dari semangat menghidupkan suara akar rumput, diskusi ini didesain dengan mengedepankan pendekatan rembug warga, yang menempatkan komunitas sebagai subjek utama dalam proses diskusi. Enam perwakilan komunitas dari penghayat kepercayaan, transpuan, disabilitas, orang muda, perempuan, serta penggerak demokrasi kerakyatan dengan perspektif masing-masing menyampaikan ulasan buku serta membagikan praktik dan pengalaman menjaga api demokrasi di akar rumput. Peserta dari berbagai komunitas lintas isu, aktivis, akademisi, mahasiswa, jurnalis, serta pemangku kebijakan di Yogyakarta secara interaktif juga dapat berbagi pandangan dan keresahannya terhadap proses demokrasi yang terjadi saat ini.

Diskusi dipandu oleh Ummu Samhah Mufarrihah (Dosen UIN Sunan Kalijaga serta menghadirkan dua penanggap buku yaitu Aloysius Gunadi Brata (Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atmajaya Yogyakarta) dan Panji Mulkilla (semutapi.id). Keduanya menggarisbawahi bahwa demokrasi tidak hanya hidup atau terkait dengan politik, melainkan juga terkait dengan ekonomi, ekologi, sosial, budaya, bahkan kebiasaan di warung kopi. Aloysius merefleksikan bahwa, “Api itu harus berdiri dan muncul dari bawah. Kedua, perlu ada kekuatan orang muda bukan sebagai objek politik, tetapi sebagai agen perubahan dan merekat tetapi harus ditemani. Ketiga, bagaimana merawat api tetap menyala ada banyak cara, salah satunya menulis, berdialog, dan bertindak kolektif. Maka menjaga demokrasi adalah kerja harian dari ruang-ruang kecil, tapi harus berani jujur, kritis dan berpihak pada kepentingan publik.”

Panji meyakinkan bahwa demokrasi masih dihidupkan di tingkat akar rumput, di tengah lelahnya menghadapi demokrasi di Indonesia dan para pejuangnya dihadapkan pada kemiskinan dan ketidakadilan. Ada asa dari kelompok marginal seperti orang dengan disabilitas yang memperjuangkan haknya untuk berkontribusi sebagai subyek aktif bukan sebagai pihak yang dikasihani. “Aktor demokrasi itu bukan DPR, pengamat, tetapi aktornya adalah kita semua yang menginginkan hak itu kita dapat. Karena aktornya adalah kita, maka demokrasi adalah soal sehari-hari dan bukan praktik lima tahun sekali.” tegas Panji. Orang muda pun mengambil bagian mendiskusikan demokrasi dan memperjuangkan isu-isu kemasyarakatan hingga turut memengaruhi kebijakan. Esensi demokrasi ada pada partisipasi dan kesadaran warga, bukan hanya sekadar pemilu, presiden, DPR, dan lainnya.

Melalui diskusi ini, YLKiS bersama Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta menegaskan bahwa demokrasi bukanlah monumen mati, melainkan api yang harus terus dijaga nyalanya melalui dialog dan aksi nyata secara kolektif. Diskusi ini menjadi pengingat bahwa di tangan warga yang berjejaring dan saling peduli, martabat demokrasi di tingkat akar rumput akan tetap tegak berdiri meskipun hambatan menyelimuti perjalanannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *