Sebagai bentuk penyikapan terhadap Situasi keberagaman tersebut, Yayasan Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) mencoba menyelenggarakan sebuah pendidikan alternatif yang mampu menanamkan semangat saling menghargai pelbagai keragaman pada kalangan anak muda dalam bentuk Belajar Bersama.
Kegiatan bertema "Civic Multiculturalism for Youth" ini diselenggarakan selama satu minggu (11-17 Februari 2010) dan diikuti oleh 20 peserta dari pelbagai latar belakang kebudayaan, agama dan organisasi yang berbeda.
Sebagaimana terbersit dalam tema, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman menyeluruh pada peserta tentang kesetaraan hak-hak dan kewajiban dari sudut pandang hubungan negara dan warga negara. Pendekatan ini menempatkan multikulturalisme sebagai sebuah bagian dari kewarganegaraan.
Materi-materi yang diberikan dalam Belajar Bersama kali ini terfokus pada beberapa titik tekan yang berbeda, yakni: (1), Pengertian mendasar dari demokrasi dan hak-hak kewarganegaraan, (2), Multikulturalisme dan kewarganegaraan, (3), kesetaraan gender, dan (4), politik multikulturalisme. Tidak hanya itu, peserta ikut dibekali dengan beberapa keterampilan teknis tentang analisa sosial dan advokasi.
Pembelajaran dalam Belajar bersama mempergunakan pendekatan andragogi yang memungkinkan peserta terlibat secara menyeluruh dalam proses belajar. Kegiatan ini juga diselingi dengan kunjungan ke tiga komunitas berbeda, yaitu: (1) Komunitas Sapta Dharma, (2), Pesantren wanita pria (Waria), dan (3) komunitas difabel. Kunjungan ini ditujukan untuk memberikan pengalaman langsung kepada peserta perihal keberadaan kelompok yang berbeda, baik kepercayaan, orientasi seksual dan kemampuan fisik.
Terkait Penyegelan Rumah Ibadah dan Kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Manislor





Berita 


