Email | weare_toelis(at)yahoo.co.id
Facebook| weare_toelis(at)yahoo.co.id
Latar Belakang
Komunitas Toelis lahir setelah para peserta Workshop Creative Writing pada 1 April 2007 bersepakat untuk menghasilkan karya bersama sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas CORET. Anggota komunitas ini juga berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Karakter khas dalam komunitas Toelis akhir-akhir ini yaitu lebih tertarik pada tren anak muda masa kini, bagaimana mereka memandang persoalan budaya, tradisi, dan kebangsaan. Saat ini sudah ada 3 generasi.
Keseluruhan generasi komunitas ini telah menghasilkan lebih dari 12 edisi bulletin yang disebarkan di sekitar 36 Sekolah Menengah Atas dan sederajat serta di acara-acara kebudayaan yang melibatkan anak muda. Untuk generasi pertama bahkan telah menghasilkan Koempoelan Cerpen “Raut Langit” dengan pencarian dana secara mandiri.
Pertemuan komunitas dilakukan setiap hari Sabtu, pukul 15.00 WIB atau sepulang sekolah di sekretariat TOELIS. Selain membahas penerbitan bulletin, komunitas juga membaca dan mendiskusikan tentang tokoh terkenal dan karyanya, juga karya teman sendiri, nonton pertunjukan seni, film dan pameran serta mengunjungi tempat-tempat menarik untuk menemukan inspirasi dan imajinasi.
Karya
Komunitas Toelis telah membuat 6 film dokumenter yaitu |
Raja Ketoprak Tukang Becak (Karya Komunitas TOELIS Generasi 1)
Perjalanan waktu membuat banyak pergeseran. Satu seni kehidupan yang mulai terlupakan “Kethoprak” mampu mengukuhkan kesenian tradisi di tengah hiruk-pikuk perubahan ketika generasi mulai beralih perhatian ke budaya modern. Sebuah cerita tentang kesederhanaan, survival dan kearifan hidup.
Filmmaker:
• Niki Dwi Permadi (SMA St. Yoseph)
• Maria Citra Pratiwi (SMKK Marganingsih)
• Angel Rose (SMA Kristen 1 Surakarta)
• Erlinawati Hartiningtyas (SMAN 2 Surakarta)
• Putri Asri Dwi Fadila (SMAN 2 Surakarta)
• Soviana Cahyaningtyas SP. (SMAN 2 Surakarta)
Penghargaan:
Sang Bomber (Karya Komunitas TOELIS Generasi 1)
Kala Ruang kota menjadi sumpek oleh bangunan-bangunan kokoh dan megah, rasa keterasingan diekspresikan lewat tembok. Sang “Bomber” adalah kisah mengenai petualangan dan tantangan remaja masa kini dalam mencari jatidiri
Filmmaker:
• Lintang Rembulan (SMA St. Yoseph)
• Friska Sari Amelia (SMAN 5 Surakarta)
• Irene Astrid P. (SMA St. Yoseph)
• Fauziah Yudaningtyas (MAN 2 Surakarta)
• Farida Iskandiari (SMAN 5 Surakarta)
• Maria Ananingrum (SMAN 5 Surakarta)
• Riza Budi Utomo (SMA St. Yoseph)
Pelajar Bersenjata (Karya komunitas TOELIS generasi 1)
Apa yang dipikirkan oleh pelajar kini tentang nasionalisme ? Bagaimana juga dengan para pelajar di masa penjajahan dulu ? Film ini mengajak kembali mengenang pengalaman mereka yang turut berjuang melawan penjajah dan bertaruh nyawa di usia belia. Sementara di sisi lain, kemerdekaan bukan berarti usai perjuangan. Senjata yang dipanggul berbeda, tantangan yang dihadapi pun tak kalah beratnya.
Filmmaker:
Friska, Irene Astrid, Sovie
Siapa Salah Apa? (Karya komunitas TOELIS generasi 1)
Bagaimana suara rakyat bisa menentukan pemerintahan untuk kurun waktu yang cukup lama. Apa akibatnya jika salah pilih? Bagaimana jika tidak memilih? Film semi dokumenter ini bercerita tentang pemilihan Gubernur Jawa Tengah di daerah pemilihan Surakarta.
Filmmaker:
Friska, Lintang Rembulan, Sovie, Irene Astrid
Penghargaan:
- Film ini berhasil menjadi salah satu dari 10 finalis dan Film Favorit pilihan Dewan Jury dalam Kompetisi Film Pendek Anak Muda (kfpam) 2008 “Gue Berani Milih”. Yang diadakan oleh CIVED dan disponsori oleh Departemen Dalam Negri, UNDP, INDONESIA-satu negeriku, damai bangsaku. Didukung oleh: ERWE (lets join lets sing and dance), DISCOMOJOYO, FISIPOL music forum, The Display of Indonesia, KBR68H, Girlfriend-Indonesia, majalah HAI, Kawanku dan PramborsRadio.
Super Sapi Super (Karya Komunitas TOELIS generasi 2)
Sapi ternyata bisa hidup di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tempat yang penuh sampah dan bibit penyakit. Mau lihat bukti? Semua ada di TPA Mojosongo. Sapi-sapi berlarian dan mengais sampah untuk dimakan. Meski memiliki banyak resiko, keberadaan mereka bisa mendatangkan keuntungan berlipat bagi pemulung yang menempatkan mereka di sana.
Filmmaker:
• Kusnanto Riwus Ginanjar (SMA MTA Surakarta)
• Fitria Listie Suryani (SMA Negeri 5 Surakarta)
• Maharani Jibbriellia (SMAN 1 Surakarta)
• Andhika Budi Prasetya (SMA Negeri 1 Colomadu)
• Deva Candra Pradika (SMA Negeri 1 Colomadu)
• Farida Isfandiari (SMAN 5 Surakarta)
• Fajar Rosyidi (SMA Negeri 5 Surakarta)
Utak Atik Otaku (Karya Komunitas TOELIS generasi 2)
Banyaknya pandangan miring tentang Otaku sebagai kegemaran yang ‘aneh’ kiranya berbeda dengan yang ada dalam film ini. Mereka tidak seperti yang dipikirkan banyak orang.
Istilah otaku sering digunakan dalam konteks yang menyinggung perasaan, sehingga otaku sering dikritik sebagai praduga atau perlakuan diskriminasi terhadap seseorang?
Suka pernak-pernik yang berbau Jepang atau penggemar mangga? Apakah Sejak paruh kedua dekade 1990-an, istilah otaku mulai dikenal di luar Jepang untuk menyebut penggemar berat subkultur asal Jepang seperti anime dan manga. Otaku pada dasarnya adalah kata ganti orang kedua yang paling sopan dalam bahasa Jepang baku, setara dengan “Anda” dalam bahasa Indonesia. Berhubung
Filmmaker:
• Andrew Puja C (SMA St. Yosep)
• Putri Ika W. (SMA 5 Surakarta)
• Indah Asmorowati (SMAN Kebakkramat)
• Hary Syawal N. (SMAN Colomadu)
• Aryo Seto (SMA N 5 Surakarta)
• Maryam Jamilah (SMA N 1 Sukoharjo)
Terkait Penyegelan Rumah Ibadah dan Kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Manislor





Program 


